Dalam statemen IF ..THEN … misalnya :
IF X<5 THEN Y:=12
X<5 adalah PROPOSISI setelah sebelumnya X diberi nilai
tertentu
Y:=12 bukanlah proposisi tetapi statemen pengisian
(ASSIGNMENT)nilai Y dengan
data 12
Catatan lain dalam implikasi adalah bahwa hubungan
"jika p maka q" tidak
mensyaratkan hubungan sebab akibat, misalnya :
1. p = "kamu belajar" , q = "kamu lulus
ujian"
Proposisi : pÆq dapat dimaknai : "jika kamu belajar
maka kamu lulus ujian"
Disini terlihat hubungan kasusalitas
2. p="1+1 = 2"
q="Jakarta ibokota Indonesia"
Proposisi : pÆ q
berarti :"Jika 1+1=2 maka Jakarta ibukota Indonesia"
Kalimat tersebut tampak "aneh" dan tidak logis,
tetapi dari sisi operasi implikasi
kalimat tersbut masih dapat diterima.
1.3. Ekivalensi proposisi majemuk
Proposisi-proposisi tunggal dapat digabung menjadi proposisi
gabungan
disebut COMPOUND PROPOSITION (komposisi majemuk). Komposisi
majemuk
ini dapat bernilai SELALU benar atau selalau salah.
TAUTOLOGY : komposisi majemuk yang bernilai selalau benar,
misal : p ∨ ¬ p
CONTRADICTION : komposisi majemuk yang bernilai selalu
salah, misal : p ∧ ¬
p
Tautlogy dan kontradiksi dapat dibuktikan dari tabel
kebenaran berikut :
P ¬ p p ∨ ¬ p p ∧ ¬ p
T
F
F
T
T
T
F
F
EKIVALENSI : ( ⇔ )
Proposi majemuk juga dinyatakan sebagai EKIVALEN SECARA
LOGIKA
(logically equivalence) jika proposisi-proposisi tersebut
memiliki tabel kebenaran
yang sama.
Contoh 1.7. : Ujilah apakah ekivalensi ini benar :
¬ (p ∨
q) ⇔
¬ p ∧ ¬ q
Jawab :
Untuk menjawab ekivalensi ini dapat ditempuh dengan beberapa
langkah :
Langkah 1:
Buat dua kolom tabel kebenarn p dan q
p q
T
T
F
F
T
F
T
F
Langkah 2:
Tambahkan satu kolom dan cari kebenaran p ∨ q .
P q p ∨ q
T
T
F
F
T
F
T
F
T
T
T
F
Langkah 3:
Tambahkan satu kolom dan cari kebenaran : ¬ (p ∨ q) . Dengan membalik saja.
Pada langkah 3 ini kebenaran dari RUAS KIRI sudah
ditentukan.
P q p ∨ q ¬(p ∨ q)
T
T
F
F
T
F
T
F
T
T
T
F
F
F
F
T
Langkah 4:
Tambahkan DUA kolom untuk ¬p
dan kolom ¬ q . Isikan kebenarnnya.
P q p ∨ q ¬(p ∨ q) ¬p ¬q
T
T
F
F
T
F
T
F
T
T
T
F
F
F
F
T
F
F
T
T
F
T
F
T
Langkah 5:
Tambahkan satu kolom (terakhir) yaitu kolom proposisi : ¬p ∧ ¬ q . Isikan
kebenarnnya. Diperoleh :
P q p ∨ q ¬(p ∨ q) ¬p ¬q ¬p ∧ ¬ q
T
T
F
F
T
F
T
F
T
T
T
F
F
F
F
T
F
F
T
T
F
T
F
T
F
F
F
T
Pembuktian selesai : nampak kolom ¬(p ∨ q) dan kolom ¬p ∧ ¬ q memiliki
kebenaran yang sama. Kesimpulan adalah benar ekivalensi :
¬(p ∨ q) ⇔ ¬p ∧ ¬ q
LATIHAN :
1. Tentukan apakah ekivalensi ini benar?
¬(p ∨ q) ⇔ ¬p Æ q
2. Buktikan ekivalensi
pÆq ⇔ (p∧¬q) Æ (r∧¬r)
petunjuk :
Untuk menguji ekivalensi melibatkan 3 variabel mula-mula susun
3 kolom
kebenaran dari variabel penyusunnya, kolom p,q dan r. BAB II
LOGIKA PREDIKATIF
1.2. Predikat dan
Fungsi Proposisi
Perhatikan kalimat berikut :
"john seorang mahasiswa"
"andi seorang mahasiswa"
Dua buah kalimat tersebut mengandung dua bagian yaitu
"John", "Andi" dan
"seorang mahasiswa". Bagian pertama dapat
digantikan oleh nama-nama orang
siapapun, sehingga dapat juga diganti dengan x. Bagian kedua
adalah keterangan
tentang bagian pertama. Bagian kedua disebut sebagai PREDIKAT dari bagian
pertama.
Dua kalimat tersebut
merupakan proposisi yang dapat diubah
menjadi
kalimat terbuka.
"x seorang
mahasiswa"
Selanjutnya predikat dapat dinotasaikan dengan sebuah huruf
besar, yaitu misalnya
P. Sehingga jika P mewakili predikat "seorang mahasiswa"
"john seorang
mahasiswa" dapat ditulis sebagai P(john)
"andi seorang
mahasiswa" dapat ditulis sebagai P(andi)
dan
"x seorang
mahasiswa" ditulis sebagai P(x)
Pada pembahasan selanjutnya predikat dinotasikan sebagi
huruf besar dan objek
yang dikenai predikat tersbut diwakili oleh huruf kecil.
P(x) merupakan
statemen yang belum dapat diberi nilai
kebenaran. P(x)
disebut sebagai fungsi proposisi.
1.3. Fungsi proposisi dengan dua atau lebih variabel
Perhatikan kalimat berikut :
"john duduk di depan andi"
Jika predikat "duduk didepan" dinotasikan dengan
Q, maka :
Q(john,andi) bermakna : john duduk didepan andi"
Q(x,y) bermakna : x duduk didepan y, yang merupakan fungsi
proposisi dua
variabel.
Q(y,x) bermakna : y duduk didepan x, yang merupakan kondisi
yang lain dengan
Q(x,y).
Pada fungsi proposisi dua variabel atau lebih, maka urutan
variabel harus
diperhatikan. Urutan variabel yang berbeda memiliki makna
yang berbeda.
Perhatikan kalimat :
"siti duduk diantara joko dan sano"
Fungsi proposisi R(x,y,z) dapat diajukan. R memiliki arti
"duduk diantara .. dan .."
"ali dan rudi bermain melawan romeo dan yuli"
Fungsi proposisi S(a,b,c,d) dapat diajukan dengan
S="bermain melawan"
1.4. Operasi pada Fungsi proposisi
Dua atau lebih fungsi proposisi dapat digabungkan membentuk
fungsi proposisi
yang baru.
Perhatikan kalimat berikut :
"Jika joko pelajar maka ia dapat korting"
Dapat diekspresikan : P(joko) ÆQ(joko)
Dimana: P = "seorang pelajar"
Q=
"mendapat korting"
"Jika seseorang adalah pelajar maka ia akan dapat
koritng"
ditulis : P(x) Æ Q(x)
Kalimat :
"Jika seseorang
rajin belajar dan ikut ujian , ia tak akan tinggal kelas"
dapat dinotasikan sebagai :
B(x) ∧ U(x) Æ ¬
T(x)
Dimana: B = "rajin belajar "
U=
"ikut ujian
T="tinggal kelas"
1.5. Semesta
Pembicaraan
Dalam suatu fungsi proposisi yang melibatkan satu, dua atau
banyak variabel,
maka masing-masing variabel akan dapat dievaluasi dalam
suatu himpunan tertentu
yang disebut sebagai SEMESTA pembicaraan. Semesta pembicaraan menjadi
memungkinkan menerjemahkan fungsi proposisi menjadi
proposisi yang dengan
jelas dapat dievaluasi benar atau salah.
Contoh :
1. M(x)="x adalah seorang mahasiswa"
Maka semesta
pembicaraan x adalah manusia
2. Q(x,y)="x duduk dedepan y"
Semesta pembicaraan x, y adalah orang-orang yang sedang
nonton bioskup
3. R(x,y)= "x
2
+y
2
>0"
Semesta pembicaraan adalah x,y bilangan real; biasa ditulis
: x,y∈ℜ
1.6. Kuantifikasi Fungsi Proposisi
Suatu fungsi proposisi dapat diubah menjadi proposisi dengan
melakukan
penggantian variabel dengan nilai data yang dimungkinkan oleh semesta
pembicaraan.
Contoh :
1. Fungsi proposisi : Q(x)="x adalah binatang
galak"
Dengan x adalah semua singa yang hidup didunia
Diubah menjadi proposisi yang BENAR="singa liar dihutan
adalah binatang
galak"
Diubah menjadi proposisi yang SALAH="singa sirkus
adalah binatang
galak"
2. Fungsi proposisi : R(x,y)="x
2
+y
2
>0" dengan semesta pembicaraan x,y∈ℜ
Diubah menjadi proposisi yang BENARÎ"2
2
+3
2
>0"
Diubah menjadi proposisi yang SALAHÎ"0
2
+0
2
>0"
Cara lain untuk merubah fungsi proposisi menjadi proposisi
dapat juga dengan
cara memberi kuantor (quantifier). Dikenal dua macam kuantor
yaitu :
KUANTOR UNIVERSAL (universal quantifier): ∀
"disimbolkan dengan
∀=dibaca SEMUA"
Contoh :
Fungsi
proposisi : Q(x)="x
2
-1 >0" ,
untuk semesta x bilangan real
Belum memiliki nilai kebenaran.
Jika diberi kuantor ∀ akan
menjadi proposisi :
∀x Q(x)="x
2
-1 >0" , x∈ℜ
dibaca:"Untuk semua x dengan x bilangan real berlaku x
2
-1 >0"
ini adalah proposisi
yang SALAH Î karena jika x=0 maka 0
2
-1 <0
Dengan demikian kuantor ∀ membuat
Q(x) menjadi proposisi
(bernilai SALAH).